Kali Ciliwung Selasa, 05 Januari 10
Ci Liwung
Ci Liwung di timur Pulo Geulis,
Ibu-ibu mencuci di tepian Ci Liwung. Pulo Geulis.
Ci Liwung[1] atau, secara salah kaprah namun lebih populer, Sungai Ciliwung, adalah sebuah sungai besar di Pulau Jawa. Wilayah yang dilintasi Ci Liwung adalah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan
Hulu sungai ini berada di dataran tinggi yang terletak di perbatasan Kabupaten
Dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, Ci Liwung memiliki dampak yang paling luas ketika musim hujan karena ia mengalir melalui tengah kota Jakarta dan melintasi banyak perkampungan, perumahan padat, dan pemukiman-pemukiman kumuh. Sungai ini juga dia
nggap sungai yang paling parah mengalami perusakan dibandingkan sungai-sungai lai
n yang mengalir di
Sistem pengendalian banjir sungai ini mencakup pembuatan sejumlah pintu air/pos pengamatan banjir, yaitu di Katulampa (
Proyek Banjir Kanal Timur mesti didukung penataan daerah hulu dan ketersediaan daerah resapan.
Di tengah suasana banjir
Sebuah pesan yang agak bernada sinis, tapi tak kehilangan rasa humor. Sikap itu seolah mewakili cara sebagian warga
Lihat saja sikap Sonny Wiryawan, 39 tahun, seorang manajer madya di sebuah bank swasta besar yang tinggal di permukiman elite Kelapa Gading. Saat air mulai merambat naik menyusup ke dalam rumahnya, ia sigap memboyong istri dan tiga anaknya ke sebuah hotel bintang empat di kawasan Pancoran, Kamis malam pekan lalu. Ketika kembali ke Kelapa Gading, dengan segala perjuangan selama
Dengan susah payah, Sonny bisa mencapai rumahnya. Lalu lompat ke teras loteng dan memecahkan kaca jendela untuk masuk. Selama dua hari ia bertapa sendirian, membaca novel dengan lampu baterai, karena aliran listrik putus, di lantai dua. ”Habis, mau apa lagi?” katanya datar. Ia tak mau ambil risiko meninggalkan rumahnya di tengah isu penjarahan. ”Saya tidur-tiduran saja sambil menunggu air surut,” ujarnya, Senin lalu.
Boleh dibilang, sebagian besar warga
Pada banjir Februari 1996, ketinggian air masih sepinggang orang dewasa. Lantas, pada 2002, genangan air bah menyisakan ruang sekitar satu meter dari bibir atas terowongan. Sedangkan pada banjir kali ini, luapan air hampir menyumpal seluruh ruang terowongan.
Memang, hingga kini belum ada angka resmi ihwal luas areal genangan banjir di
Hujan yang turun di awal Februari 2007 itu memang teramat spesial. Pada puncak peristiwa Sabtu pekan lalu, menurut catatan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), jeluk hujan di kawasan Bogor mencapai 245 mm. Itu 24 jam saja. Angka ini jauh melampaui ”prestasi” hujan pada awal Februari 2002, yang mencatat rekor 200 mm. Tak mengherankan bila banjir kiriman pun mengalir deras melalui Kali Ciliwung, Cisadane, Sunter, Cipinang, dan Kali Bekasi.
Celakanya, guyuran hujan sangat lebat ini dihadapi oleh kawasan yang kapasitas serapan airnya semakin hari kian payah. Dulu, menurut Bambang Warsito, Kepala Staf Perencanaan Pengembangan Wilayah Ciliwung-Cisadane, Departemen Pekerjaan Umum (PU), dari setiap 100 mm air hujan yang jatuh di Jakarta, sekitar 40 mm terserap ke dalam tanah. Air limpasan 60 mm saja. Kini, yang terserap paling banyak hanya 15 mm alias 15%. Air limpasan pun makin menggila.
Hal itu terjadi karena daerah terbuka di
Kondisi di hulu sama runyamnya. Pada 1992, kawasan yang terbangun (untuk permukiman, wisata, infrastruktur jalan, dan keperluan lain) masih sekitar 101.000 hektare. Tahun 2006, wilayah ini mekar menjadi 225.000 hektare. Pada saat yang sama, kawasan bervegetasi merosot dari 665.000 hektare ke angka 541.000 hektare. Jelas, dari segi tata air, kapasitas daerah ini sudah tak memadai.
Memang banjir dan
Dari daerah Puncak mengalir Sungai Ciliwung sepanjang sekitar 60 kilometer. Di sebelah timur ada Sungai Cakung, Jati Kramat, Buaran Sunter, dan Cipinang, yang panjang badannya tidak lebih dari 30 kilometer. Di pusat dan barat ada Sungai Cideng, Krukut, Grogol, Sekretaris, Pesanggrahan, juga Angke, yang berhulu di selatan Jakarta, 20-30 kilometer dari pantai.
Meski pendek, pada musim banjir, sungai-sungai itu bisa menggila. Jika mengamuk, debit Kali Angke, misalnya, bisa mencapai 160 meter kubik per detik. Ciliwung bisa mengalirkan 250 meter kubik per detik. Sedangkan Kali Sunter 120 meter kubik per detik. Curah hujan yang tinggi adalah satu-satunya penyebab amukan sungai itu.
Sejarah mencatat, beberapa kali banjir besar melanda
Kedatangan banjir ini memiliki pola waktu yang sama, yakni jatuh di awal tahun. Utamanya Januari hingga awal Februari. Pada kedua bulan pembuka ini, curah hujan mencapai angka tertinggi. Hal ini tampak pada rekaman data curah hujan pantauan Stasiun Meteorologi 745, Kemayoran, satu dari enam stasiun di Jabotabek.
Pada musibah banjir 2002, menurut penuturan Nuraeni, Kepala Stasiun Meteorologi Kemayoran, kepada Hatim Ilwan dari Gatra, curah hujan bulan Desember 2001 tercatat 116 mm. Lantas melonjak menjadi 695 mm sepanjang Januari, dan bertahan di angka 634 mm pada Februari. Kemudian kembali anjlok pada bulan Maret hingga 306,3 mm.
Dari riwayat banjir ini juga jelas terlihat, dari zaman ke zaman frekuensi kedatangannya semakin kerap. Pada zaman kolonial Belanda frekuensinya pada kisaran 20 tahun, berikutnya menjadi per 10 tahun, dan kini
Karena sudah ”nasib”
Hanya saja, instansi itu tak berkutik menghadapi perilaku sungai-sungai tropis yang variasi debitnya begitu tinggi. Debit Ciliwung, misalnya, di musim kemarau hanya 1-2 meter kubik per detik. Puncaknya terjadi pada 1873, ketika hampir seluruh
Baru pada 1920 muncul konsep penanggulangan banjir yang komplet dari tim yang dipimpin Prof. H. van Breen. Konsep ini lahir setelah
Untuk itu, Van Breen menyarankan ada saluran kolektor di pinggiran selatan
Sungai buatan itu dibangun mulai dari titik aliran Sungai Ciliwung di Manggarai, kemudian membelok ke barat memotong Sungai Cideng, Sungai Krukut, Sungai Grogol, terus ke Muara Angke. Untuk mengatur debit aliran ke dalam
Proyek penanggulangan banjir Breen itu cukup tangguh, setidaknya untuk kurun 40 tahun. Selama waktu itu, bisa dibilang
Hasil kerja mereka antara lain Waduk Setia Budi, Waduk Pluit, Waduk Tomang, dan Waduk Grogol.
Upaya lebih serius berlangsung ketika Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI
Satu lagi yang paling penting dari Master Plan 1973 adalah rencana pembuatan saluran kolektor di sebelah timur atau Banjir Kanal Timur (BKT). Saluran BKT rencananya dibangun memotong Sungai Cipinang, Sunter, Buaran, dan Cakung. Seluruh aliran empat sungai itu akan ditampung di BKT, untuk kemudian dibuang ke ke laut melalui daerah Marunda.
Tapi, lagi-lagi, ketidakadaan dana membuat proyek BKT tak kunjung terwujud. Baru pada 10 Juli 2003, setahun setelah banjir hebat 2002, proyek BKT dicanangkan dan ditargetkan bisa rampung tahun 2010. Proyek yang saat itu diperkirakan menelan biaya Rp 4,124 trilyun ini akan membentang sepanjang 23,5 kilometer. Rata-rata lebar sungai sekitar 100 meter, dengan kedalaman tiga meter.
Sebagian besar anggaran itu, yakni Rp 2,186 trilyun, untuk pembebasan lahan. Dalam tahap pelaksanaannya, lagi-lagi proyek strategis ini terbentur kendala. Terutama oleh perkara pembebasan tanah, yang sebagian besar dimiliki warga dan pihak swasta. Di beberapa tempat sering terjadi tumpang tindih penguasaan lahan.
Pemerintah menetapkannya berdasarkan nilai jual objek pajak, rata-rata Rp 500.000 per meter persegi. Tetapi, bagi warga, harga itu terlalu rendah. Proses pembebasan pun terganjal. Hingga kini, proyek BKT baru merangkak sepanjang 7,7 kilometer.
Berbagai kendala inilah yang membuat banyak pihak pesimistis atas skema pembangunan BKT. Malah beberapa pakar tata
Planolog Abdul Alim Alam berpendapat, banjir kanal sebetulnya hanya berperan memperlancar aliran sungai ke laut. Selain itu, juga membelokkan air menyusuri pinggiran hingga tak langsung menuju pusat
Karenanya, menurut Abdul Alim, yang tak kalah penting adalah membuat agar air bisa sebanyak-banyaknya terserap ke dalam tanah. Bukan mengalir di permukaan. Kondisi ini bisa terjadi bila di daerah hulu atau selatan
Jalan keluar lainnya pernah diusulkan konsultan dari Prancis dan Jepang. Intinya, keduanya menyarankan, untuk meredam banjir, perlu dibangun sejumlah reservoar yang bisa menampung sementara aliran air. Selain itu, direkomendasikan untuk merevitalisasi situ-situ yang sudah ada.
Rencana pembangunan
Nama kelompok :
- Indra Prasetya ( 50407450 )
- Nadya Indah Y ( 50407607 )
- Rasyid Ramdani ( 50407693 )
_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar